#TripSumbar part 2: Harau, Sebuah Lembah yang Menawarkan Kedamaian


Jumat, 18 Januari 2013

Persawahan yang dikelilingi tebing tinggi

Persawahan yang dikelilingi tebing tinggi

Hari sudah malam ketika saya dan teman saya, Devi, sampai di Lembah Harau. Jalan beraspal yang kami lewati sudah sepi dan gelap, cahaya hanya berasal dari lampu depan motor pemilik penginapan yang menjemput kami. Saat kami memasuki halaman penginapan, ada 3 orang pemuda-pemudi yang sedang mengobrol di depan api unggun. Mereka menawari kami untuk bergabung, tapi kami menolak karena waktu sudah hampir tengah malam. Perjalanan panjang hari itu membuat kami lebih memilih untuk segera membersihkan badan dan istirahat. Pemilik homestay pun menunjukkan rumah yang akan kami tempati.

Rumah tempat kami menginap di Harau

Rumah tempat kami menginap di Harau

Homestay ini merupakan sebuah komplek kecil yang terdiri dari 5 rumah. Masing-masing rumah terdiri dari 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, dan teras. Sebagian rumah merupakan rumah panggung. Semua dinding terbuat dari bilik bambu dan beratapkan rumbia. Pencahayaan di homestay ini tidak menggunakan listrik, tapi menggunakan lampu teplok yang berbahan bakar minyak tanah. Hal ini memang merupakan konsep dari homestay ini, supaya lebih terasa alami. Bahkan tempat tidur kami pun menggunakan kelambu untuk menambah suasana yang berbeda. Jam sudah mendekati jam 12 malam ketika saya beranjak tidur. Saat tengah malam, samar-samar terdengar suara jangkrik, katak, dan Monyet dari kejauhan. Kebetulan tidak jauh dari tempat kami menginap merupakan habitat alami dari Monyet khas Sumatera. Malam itu, saya seolah berada di tengah hutan dan merasa damai.

Area homestay yang terdiri dari 5 rumah

Area homestay yang terdiri dari 5 rumah

Jalan-jalan pagi di Harau

Jalan-jalan pagi di Harau

Pagi hari, kami berjalan di sekitar homestay, menikmati udara pagi yang segar, menyusuri jalan tanah berbatu dan berumput, dan melihat persawahan hijau dan luas yang dikelilingi bukit batu yang menjulang tinggi. Saat kembali ke homestay kami berkenalan dengan 2 pemudi yang semalam ada di api unggun, kakak beradik, Diah dan Titi. Mereka berdua mengajak kami ikut berkeliling ke air terjun dan melihat hutan sekitar habitat Monyet. Tentu saja tawaran ini tidak kami tolak. Setelah sarapan kami langsung beranjak pergi.

Sawah di Harau

Sawah di Harau

Jarak homestay ke air terjun cukup jauh, sekitar 1 km, tapi itu tidak terasa jauh karena pemandangan sepanjang perjalanan sangat indah dan membuat kami takjub. Pemandangan didominasi oleh warna hijau sawah dan pepohonan yang dikelilingi oleh tebing batu yang menjulang tinggi. Kami serasa berada di negeri kurcaci ala flinstone. Di tengah perjalanan kami sempat mampir di sebuah tebing yang memiliki titik echo, yaitu sebuah tempat yang jika kita berteriak di sana, maka suara kita akan bergema ke seluruh penjuru bukit.

Titik Echo

Titik Echo

Ketika perjalanan kami sudah dekat dengan air terjun, kami menjumpai ada banyak orang, ibu-ibu, bapak-bapak, dan pemuda-pemudi desa yang sedang melakukan kerja bakti. Mereka sedang membersihkan jalanan dari rumput liar dan tanah yang mengotori jalanan aspal. Hari itu adalah hari jumat, dan di beberapa daerah hari jumat pagi memang biasa digunakan warga untuk kerja bakti membersihkan lingkungan. Tapi saya tidak menyangka bahwa di daerah kecil seperti Lembah Harau, tradisi kerja bakti ini masih dilakukan sampai saat ini. Sebuah kearifan lokal yang jarang ditemui di kota besar seperti tempat tinggal saya.

Kerja bakti di jumat pagi

Kerja bakti di jumat pagi

Sampai di air terjun, kami tidak menemukan Monyet yang ingin dilihat. Tapi salah seorang tamu homestay, pemuda asal Belanda yang semalam ada di api unggun, berhasil melihat dan memotret Monyet yang sedang begelantungan dari pohon ke pohon. Pemuda yang saya tidak tahu namanya itu sudah beberapa hari menginap di Harau dan setiap pagi dia rajin menyusuri bukit hanya untuk melihat Monyet khas Harau. Beruntung di hari terakhirnya di Harau, akhirnya dia bisa melihat Monyet tersebut, karena Monyet itu tidak setiap hari berkeliaran di sana.

Foto bersama di icon Harau

Foto bersama di icon Harau

Sekembalinya kami ke homestay, kami hanya menghabiskan waktu dengan mengobrol dan bercerita mengenai banyak hal. Saya, Devi, Mba Diah, dan Mba Titik juga membicarakan mengenai rencana perjalanan kami selanjutnya setelah Harau, yaitu Bukittinggi. Perjalanan saya ke Lembah Harau merupakan salah satu pengalaman menarik yang memberi saya banyak pelajaran dan kebanggaan dengan alam dan budaya Indonesia. Sebagai orang kota, hal alami seperti kesunyian malam dan suara hewan malam merupakan hal langka yang bisa memberikan kedamaian tersendiri. Harau memang tempat yang tepat untuk mendapatkan kedamaian, lepas sesaat dari rutinitas dan hiruk pikuk kota besar.

Foto sebelum pulang

Foto sebelum melanjutkan perjalanan

Advertisements

#TripSumbar part 1: Ngebolang ke Ranah Minang (Padang – Harau)


*pertemuan dengan orang-orang baik*

17 Januari 2013

Seperti yang sudah saya ceritakan di sini, Hari itu, Kamis, 17 Januari 2013, merupakan hari yang panjang dan melelahkan untuk bisa sampai di Minangkabau. Ketika melihat ke jendela bahwa pesawat sudah memasuki wilayah sumatera barat, saya merasa sedikit lega walaupun masih tetap mengkhawatirkan keberadaan teman saya, Devi. Cuaca Kota Padang siang itu sangat cerah, berbanding terbalik dengan cuaca Jakarta yang kelabu.

Pemandanan Sumbar dari atas pesawat

Pemandanan Sumbar dari atas pesawat

Sejam menunggu di bandara, akhirnya saya bertemu dengan Devi dan kemudian kami mencari tumpangan ke Bukittinggi. Ada banyak pilihan dari bandara menuju Bukittinggi, yaitu menggunakan travel, naik damri ke kota Padang lalu lanjut naik bus, atau jalan kaki sekitar 3 km menuju jalan raya untuk kemudian naik bus ke Bukittinggi. Dan kami pun lebih memilih naik damri ke jalan raya. Saat itu sudah pukul 4 sore, kami langsung masuk ke bis damri dan duduk dengan tenang karena lega bisa memulai petualangan di ranah minang. Ketika kami sudah duduk di dalam damri, kernet bus pun langsung meminta ongkos, sehingga tidak ada pilihan berganti kendaraan lain selain menunggu bus jalan. Ternyata bus damri yang kami naiki baru akan jalan jika bus sudah terisi penuh. Dan menunggu sampai bus penuh bisa memakan waktu sampai satu jam. Bus pun jalan ketika jam sudah menunjukkan angka 5. Supir damri tersebut ternyata orang yang sangat baik. Ketika tahu bahwa kami akan ke Bukittinggi dan kami tidak tahu transportasi di Padang, akhirnya dia menurunkan kami di tempat bus elf antar kota ngetem. Dia juga memberi tahu kami bahwa biayanya hanya 16.000 ke Bukittinggi. Salah satu minibus Elf ANS itu masih setengah isi ketika kami datang dan kami pun memilih duduk di samping Pak Supir supaya kami bisa bertanya-tanya mengenai daerah tujuan kami nanti.

Hari sudah senja ketika minibus yang kami naiki mulai berjalan menuju Bukittinggi. Sebenarnya awalnya kami agak seram dengan supir minibus itu, karena dari penampakan fisiknya dia memiliki tato dan cara menyupir yang cenderung ngebut. Apalagi ketika baru jalan 20 menit, elf kami sempat senggolan dengan sebuah mobil lain. Saat itu, supir elf sempat keluar dari mobil dan adu mulut dengan supir dari mobil lain tersebut. Untung saja kejadian tersebut cepat terselesaikan, supir mobil lain itu mau mengalah. Sepanjang jalan, supir elf memasang lagu yang cukup kencang. Tapi di pertengahan jalan, musik yang dipasang mulai dipelankan, dan supir elf mulai mengajak kami mengobrol. Ketika tahu kami adalah wisatawan dari Jakarta, dia pun mulai bercerita tentang pengalamannya bekerja sebagai supir bis antar kota Kampung Rambutan – Bandung.

Obrolan kami membuat suasana menjadi lebih santai, ternyata supir kami itu orang yang baik, padahal sebelumnya sempat mau berantem dengan supir lain. Ternyata, memang gaya supir sumatera untuk cenderung ngebut, katanya kalau tidak ngebut akan lama sampai. Dia juga menunjukkan lokasi kecelakaan bis yang menewaskan beberapa penumpangnya dan sempat masuk berita nasional, bikin serem aja. Supir kami juga bercerita banyak tentang lokasi yang harus dikunjungi jika berkunjung ke Sumatera Barat. Katanya jika ingin mengelilingi seluruh sumatera barat, setidaknya perlu 10 hari. Sebenarnya dalam perjalanan ke Bukittinggi kami ingin juga mampir di Lembah Anai dan Sate Padang Mak Syukur. Tapi karena hari sudah malam, maka tidak memungkinkan untuk mengunjungi Lembah Anai. Tapi supir kami dengan baik hati mau menunjukkan letak Lembah Anai ketika kami melewatinya. Dia juga bercerita bahwa RM Sate Padang Mak Syukur terkenal tapi bukan yang paling enak. Katanya Padang Panjang memang terkenal dengan sate padangnya yang enak. Ada juga satu RM yang terkenal karena Pak SBY pernah berkunung ke RM tersebut. Ternyata Supir kami adalah orang Padang Panjang dan menurut dia cuaca di Padang Panjang lebih sejuk daripada Bukittinggi atau Padang, seperti di Puncak Bogor.

Perjalanan dari Padang menuju Bukittinggi ternyata memakan waktu 2 jam. Karena hari sudah malam, supir kami juga menyarankan kami untuk menginap di Bukittinggi saja dan melanjutkan perjalanan ke Harau keesokan hari. Tapi karena kami sudah menyewa penginapan di Harau untuk malam itu dan pemilik penginapan sudah menghubungi saya sejak saya sampai di Padang, kami pun memilih untuk melanjutkan perjalanan ke Harau. Untuk melanjutkan perjalanan ke Payakumbuh, kami perlu untuk naik minibus lain. Supir kami pun memberitahu minibus apa saja yang bisa kami tumpangi dan kisaran tariff nya. Ketika kami turun di sebuah pinggiran jalan, supir kami juga menitipkan kami kepada penjual minuman di pinggir jalan itu untuk memberitahu bus yang harus kami naiki. Setelah 10 menit menunggu akhirnya bus kami dating. Ternyata saat kami turun dari damri di Padang, bus ini juga ada sedang ngetem bersama dengan bus ANS yang kami naiki. Tapi karena supir damri menyarankan kami naik ANs, jadi kami pun langsung naik ANS. Salah kami juga sih karena saat ditanya supir damri mau naik bus kemana, kami malah bilang mau ke Bukittinggi bukan bilang mau ke Payakumbuh.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 20.20 ketika minibus yang kami naiki menuju Payakumbuh. Karena bus sudah separuh penuh, akhirnya kami duduk di deretan tengah yang masih kosong. Ketika sedang di tengah jalan, Uda Ricky, pemilik penginapan menanyakan posisi kami. Karena kalau malam angkot dari payakumbuh ke harau sudah tidak ada, maka ia akan menjemput kami di Payakumbuh. Karena saya tidak tahu kami sedang berada di mana, akhirnya kami bertanya kepada salah satu penumpang yang ada di minibus juga. Akhirnya uda tersebut malah mengambil alih telpon sambil bertanya juga dengan penumpang lain dalam bahasa minang. Hasil percakapan tersebut kami akan dijemput di kantor pos dekat Pasar Payakumbuh dan ternyata ada juga penumpang yang turun di tempat tersebut sehingga kami akan turun bareng penumpang tersebut.

Perjalanan Bukittinggi ke Payakumbuh hampir memakan waktu selama 1 jam. Akhirnya kami turun di suatu wilayah dekat Pasar Payakumbuh bareng dengan seorang penumpang lain dan dia pun menunjukkan lokasi kantor pos tempat Uda Ricky dan Uda Ikbal akan menjemput kami. Tidak lama menunggu, mereka pun datang dengan 2 buah sepeda motor. Karena kami belum makan malam, akhirnya di tengah jalan kami mampir di sebuah rumah makan padang yang menyajikan makanan yang sangat enak. Perjalanan dari Pasar Payakumbuh ke Harau sebenarnya hanya sekitar 30 menit dan kami pun sampai di homestay pada pukul 23.00. Mengingat kami menghabiskan sebagian besar hari itu dengan berada dalam perjalanan, menyebabkan pinggang pegal karena terlalu lama duduk, akhirnya sampai di homestay kami langsung bersih-bersih dan langsung tidur.

Dari perjalanan hari itu, kami belajar untuk tidak malu bertanya karena di Ranah Minang ini banyak sekali orang baik yang mau membantu kita tanpa pamrih :)

Trip 3 Pulau: Kelor Cipir Onrust


27 Oktober 2013

Trip kali ini adalah dalam rangka menemani teman saya, Yoe, yang jenuh dengan urusan kantor dan sedang butuh banget untuk liburan. Kami berencana untuk melakukan perjalanan yang tidak jauh dari Jakarta dan tidak memakan waktu lama. Salah satu yang menarik adalah trip sehari keliling 3 pulau yang mencakup wisata alam, sejarah, dan budaya. Ada banyak travel yang menawarkan trip ini dengan harga yang masih terjangkau dan setelah mencari tahu di berbagai travel, akhirnya kami memutuskan untuk ikut dalam trip 3 pulau (Kelor, Cipir, dan Onrust) yang diselenggarakan oleh trippulauseribu.com. Harga yang ditawarkan cukup murah, hanya 89ribu sudah termasuk kapal dari Muara Kamal untuk keliling pulau, tiket masuk wisata, makan siang, pin, dan guide di Pulau Onrust. Mimin nya pun asik banget pas ditanya-tanya tentang rute ke meeting point di Muara Kamal, maklum saya belum pernah ke pelabuhan muara kamal.

Pulau Kelor dengan bentengnya yang cantik

Pulau Kelor dengan bentengnya yang cantik

Hari itu, minggu, 27 Oktober 2013, kebetulan bertepatan dengan acara Jakarta Marathon yang memblokir hampir sebagian besar jalan protokol Jakarta sejak dini hari sampai siang, beberapa koridor busway ditutup sementara. Seharusnya saya hanya perlu naik kereta dari Depok sampai stasiun Juanda lalu lanjut naik transjakarta dari halte Juanda ke arah kalideres untuk kemudian lanjut naik mobil omprengan ke Pelabuhan Muara Kamal. Tapi karena jalur busway juanda-harmoni ditutup, saya terpaksa mencari alternatif lain yang membuat perjalanan lebih lama dan muter2. Saya naik KRL sampai stasiun Kalibata lalu lanjut naik kopaja 57 arah PGC untuk naik busway arah Tomang. Yoe sudah sampai lebih dulu dan menunggu di halte Rawa Buaya. Begitu sampai halte Rawa Buaya, kami pun langsung naik mobil omprengan tujuan Pelabuhan Muara Kamal. Mobil omprengan ini merupakan mobil kijang atau espas dengan rute Halte Rawa Buaya-Muara Kamal. Sudah telat karena harus melewati rute yang muter-muter, mobil omprengan itu juga sempat ngetem lama, alhasil kami terlambat sampai di Pelabuhan Muara Kamal. Untung miminnya baik hati sehingga mau menunggu saya dan Yoe, kebetulan mereka juga sedang menunggu katering untuk makan siang kami nanti.

Kondisi Pelabuhan Muara Kamal

Kondisi Pelabuhan Muara Kamal

Sebelum menyebrang pulau, kami berkumpul dahulu di sebuah masjid dekat pelabuhan. Jika dibandingkan dengan Pelabuhan Muara Angke, ukuran Pelabuhan Muara Kamal ini lebih kecil. Mungkin lebih tepatnya jika Muara Kamal ini dibilang sebagai kampung nelayan karena lokasinya berdekatan dengan rumah-rumah warga yang berprofesi sebagai nelayan. Bahkan ketika kami berjalan dari masjid menuju kapal, kami melewati beberapa rumah warga yang terapung di atas pinggir laut.

Sekitar jam 9 pagi, seluruh peserta trip dikumpulkan dan dibagikan satu buah pin tukang jalan. kemudian kami dibagi ke dalam 3 rombongan yang masing-masing terdiri dari sekitar 20 orang. Setiap rombongan akan menggunakan satu kapal nelayan dengan satu orang guide. Kapal ini cukup besar dan nyaman untuk 20 orang. Bagian belakang cukup luas dengan semacam balai yang memiliki atap. Tujuan pertama kami adalah Pulau kelor, sebuah pulau yang belakang ini menjadi terkenal karena menjadi tempat pernikahan pasangan artis Rio Dewanto & Atiqah Hasiholan. Perjalanan dari pelabuhan Muara Kamal ke Pulau Kelor cukup cepat, hanya sekitar satu jam perjalanan.

Jam menunjukkan pukul 10 ketika kami sampai, matahari sudah cukup panas, tapi hal tersebut tidak menghalangi kami untuk berfoto-foto di pulau cantik yang memiliki sebuah Benteng Martello ini. Benteng Martello yang berada di Pulau Kelor ini terlihat masih cukup utuh walau ada beberapa bagian yang sudah rusak. Benteng ini terbuat dari batu bata merah yang keras dan tebal. Berbeda dengan batu yang sekarang digunakan untuk membuat rumah, batu bata ini terlihat masih cukup kuat dan kokoh walaupun sudah berusia sekitar satu abad. Sebelum pulang dari Pulau Kelor, kamipun menyempatkan berfoto bersama.
Kondisi Pulau Kelor

Kondisi Pulau Kelor

Perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Onrust yang hanya berjarak sekitar 15 menit. Hari sudah siang ketika sampai, sehingga kami memutuskan untuk makan siang dan sholat terlebih dahulu sebelum melanjutkan berkeliling pulau. Setelah ishoma, kami dipandu oleh seorang guide untuk berkeliling Pulau Onrust yang juga terkenal sebagai pulau bersejarah karena pernah dijadikan sebagai pulau tahanan politik. Pertama-tama kami berkeliling menuju sebuah museum. Di sini kami bisa melihat sedikit gambaran mengenai kondisi pulau ini saat menjadi pulau tahanan. Ternyata, pulau ini juga pernah menjadi tempat pemberangkatan jemaah haji (embarkasi) Indonesia menuju Arab Saudi melalui jalur laut pada masa penjajahan Belanda. Di sini masih bisa dijumpai sisa-sisa reruntuhan bangunan barak asrama haji. Di area belakang museum terdapat replika penjara dan arena pengaduan tahanan (tahanan diadu untuk berkelahi). Di sisi lain pulau terdapat makam orang belanda yang dulu pernah tinggal di Pulau Onrust dan beberapa makam tahanan politik seperti Kartosuwiryo.

Keliling Pulau Onrust bersama seorang pemandu

Keliling Pulau Onrust bersama seorang pemandu

Sekitar pukul 1 siang, kami berangkat menuju pulau tujuan terakhir kami, yaitu Pulau Cipir yang masih bertetangga dengan Onrust dan Kelor. Menurut sejarah, pada masa penjajahan Belanda di pulau ini terdapat reruntuhan bangunan rumah sakit karantina penyakit menular dan pernah juga menjadi rumah sakit karantina haji. Pada masa penjajahan Jepang, pulau ini malah pernah menjadi tempat eksekusi. Selain memiliki sisi sejarah yang cukup kelam, Pulau Cipir ini memiliki sisi pantai yang cukup indah. Sebagian orang dari rombongan kami menyempatkan diri untuk berenang-renang dan berfoto-foto di bebatuan di pinggir pantai. Sedangkan saya dan Yoe adalah sedikit dari orang-orang yang memilih untuk duduk-duduk di pinggir pantai sambil menikmati angin sepoy-sepoy yang berhembus di Pulau itu. Suasana yang sangat asyik untuk sharing atau curhat bersama teman :)

Pulau Cipir

Pulau Cipir

Setelah foto bersama (dan kami selalu foto bersama setiap akan meninggalkan sebuah pulau, hehe), kami pun pulang menuju Pelabuhan Muara Kamal. Perjalanan satu hari keliling 3 pulau itu ternyata sangat menyenangkan dan menambah wawasan. Jika kamu bosan dengan hiruk pikuk Kota Jakarta atau rutinitas sehari-hari, mungkin ikut trip ini bisa menjadi pilihan untuk menyegarkan pikiran :D

Ini nih panitia dari trippulauseribu.com

Ini nih panitia dari trippulauseribu.com

Berikut adalah susunan acara one day trip kepulauan seribu:
08.00 : Peserta berkumpul di Dermaga Muara Kamal Cengkareng (meeting point), registrasi ulang.
08.30 : Bersiap berangkat menuju pulau kelor. (briefing, pembagian kapal, dan berdoa bersama)
09.30 : Tiba di pulau kelor, update status, bernarsis ria, update status lagi, explor pulau /acara bebas.
11.00 : Berangkat menuju pulau onrust.
11.15 : Tiba di pulau onrust, update status, berwisata sejarah keliling pulau, foto-foto, dan ISHOMA.
13.00 : Berangkat menuju pulau cipir
13.15 : Tiba di pulau cipir, update status, bernarsis ria, main air, santai pinggir pantai, acara bebas, dll.
15.30 : Persiapan pulang menuju dermaga muara kamal.