#TripKJS Hari 3: Menelusuri Kehidupan Raja dan Para Selir di Taman Sari


19 April 2014

Hari terakhir di Jogja, kami berencana untuk menghabiskan waktu di kompleks pemandian Raja, Taman Sari. Pagi itu, kami berencana pergi ke Taman Sari dengan menggunakan transjogja yang haltenya tidak jauh dari kost Jalil. Kami pun berjalan kaki dengan membawa ransel besar, karena setelah dari taman sari, saya dan Nisa akan langsung menuju Terminal Jombor untuk melanjutkan perjalanan ke Semarang. Ternyata rute perjalanan dengan menggunakan Transjogja ini cukup panjang dan mengharuskan kami transit di halte Terminal Giwangan terlebih dahulu. Tapi hal tersebut tidak menjadi masalah karena kami jadi sekalian keliling kota Jogja dengan menggunakan TransJogja. Kalau dilihat-lihat, bis transjogja ini berukuran lebih kecil daripada saudaranya transjakarta, tapi tetap nyaman digunakan.

Situs Pemandian Taman Sari

Situs Pemandian Taman Sari

Setelah lebih dari setengah jam perjalanan, kami bertiga turun di halte Taman Sari yang tidak terlalu jauh dari area wisata Taman Sari. Perut yang lapar karena belum sarapan membawa kami untuk masuk ke dalam sebuah rumah makan dekat area wisata. Soto ayam pun menjadi menu favorit pilihan kami semua. Selain soto, ada juga rawon, aneka gorengan, dan kerupuk. Kenyang dengan sajian makanan khas Jogja, kami pun melanjutkan perjalanan menuju area reruntuhan bangunan Taman Sari.

a

Reruntuhan tempat istirahat selir

Dalam perjalanan ke Taman Sari ini, Jalil bertindak sebagai pemandu wisata kami karena dia sudah beberapa kali berkunjung ke sana. Kata Jalil, sebaiknya kita masuk dari area yang biasa saja untuk terakhir menuju area Taman Sari yang paling menarik. Konon, area reruntuhan ini merupakan tempat para selir beristirahat setelah mandi. Di luar gedung peristirahatan terdapat 2 sumur yang masing-masing terletak di sisi kanan dan kiri gedung. Walaupun atap gedung peristirahatan ini sudah runtuh, tapi saya masih dapat merasakan sirkulasi udara yang sangat baik dan bikin adem ketika berada di dalamnya. Kami pun sempat duduk-duduk sejenak di salah satu sisi gedung untuk menikmati semilir angin yang berhembus melewati bangunan tua itu.

Duduk-duduk di reruntuhan bangunan

Duduk-duduk di reruntuhan bangunan

Vandalisme. Sayang ya bangunan sejarah banyak coretannya..

Vandalisme. Sayang ya bangunan sejarah banyak coretannya..

Reruntuhan di Taman Sari

Reruntuhan di Taman Sari

Selanjutnya kami menuju bangunan bekas mesjid yang letaknya tidak jauh dari gedung peristirahatan. Mesjid ini terletak di bawah tanah. Jalan menuju ke sana harus melewati tangga menurun dan terowongan. Area masjid berbentuk lingkaran dengan tempat wudhu di tengah. Hasil nguping dari guide yang menemani rombongan turis lain, saya jadi tahu bahwa bangunan-bangunan tua yang ada di kompleks Taman Sari ini sangat kuat. Bangunan-bangunan tersebut tidak menggunakan baja karena konstruksi saat itu belum mengenal baja. Untuk mengganti fungsi baja, maka bangunan tua ini menggunakan dinding yang tebal, atap melengkung, dll.

Memasuki area reruntuhan mesjid

Memasuki area reruntuhan mesjid

Setelah mengunjungi masjid, kami juga sempat melewati kampung cyber. Yang menarik dari kampung ini adalah gambar mural mengenai cyber yang terpasang di dinding tembok pagar rumah warga. Selain itu, di sepanjang jalan juga ada beberapa pelukis batik yang sedang melukiskan lilin malam di atas selembar kain.

Kampung cyber dan lukisan batik di dinding rumah

Kampung cyber dan lukisan batik di dinding rumah

Tidak jauh dari situ terdapat halaman luas yang digunakan beberapa warga untuk berjualan kaca mata hitam, galeri batik, dll. Ada juga seorang bapak yang sedang mengukir wayang kulit di atas kulit sapi berukuran sedang yang nanti akan dijadikan sebagai wayangan di pementasan wayang. Saat itu, ada seorang anak kecil bule yang sedang memperhatikan bapak itu memahat wayang. Mungkin dia penasaran karena di negaranya ga ada yang kaya begituan.

Seniman sedang memahat wayang

Seniman sedang memahat wayang

Selanjutnya kami menyusuri area di mana terdapat gedung administrasi, ruang penyimpanan, dapur umum, dan sumur. Sayangnya hanya sedikit informasi mengenai masing-masing ruangan yang terdapat di daerah ini, sehingga kami harus menebak-nebak dulu fungsi dari ruangan-ruangan tersebut pada zaman dulu. Pada dapur umum, terdapat bale yang terbuat dari semen yang kemungkinan berfungsi sebagai tempat memotong sayuran dan ada juga tungku api yang memiliki cerobong asap. Sumur juga asih khas zaman dulu, yaitu sumur kerek menggunakan timba.

Tungku dapur dan sumur

Tungku dapur dan sumur

Area terakhir adalah area yang paling menarik, yaitu kolam pemandian para selir sultan. Area ini merupakan area yang paling ramai dikunjungi wisatawan. Kolam pemandian ini cukup luas, secara keseluruhan mungkin seukuran kolam renang yang biasa dipakai atlet renang. Di pinggir kolam terdapat beberapa patung naga yang menyemburkan air. Pada saat kami memasuki area ini, tiba-tiba saja hujan deras turun sehingga kami segera berlari ke area ujung kolam untuk berteduh. Di ujung kolam ada sebuah bangunan bertingkat tiga yang konon kabarnya dari ruangan lantai 2 ini sultan biasa melihat para selir mandi dan menunjuk selir yang diinginkan. Di bangunan ini juga terdapat sebuah kamar tidur dan kamar untuk menyimpan pakaian.

Kolam pemandian selir

Kolam pemandian selir

Jika kamu punya banyak waktu santai di Jogjakarta, sempatkanlah untuk mampir ke kawasan Taman Sari ini. Tempat ini sangat bagus dan memiliki arsitektur yang khas jogja. Selain itu, ternyata taman sari merupakan salah satu area favorit untuk melakukan pemotretan pre wedding, karena selama berada di sana kami sempat menemui beberapa pasangan yang sedang melakukan foto prewed. Mungkin kalian juga bisa jalan-jalan bersama pasangan dan melakukan pemotretan pre wedding juga di sana :p

Ada yang foto pre-wedding :D

Ada yang foto pre-wedding :D

Puas berkeliling Taman Sari seharian, akhirnya saya dan Nisa berpisah dengan Jalil karena kami berdua harus melanjutkan perjalanan ke Semarang. Dengan menggunakan TransJogja, transit satu kali, kami pun sampai juga di terminal Jombor. Turun dari TransJogja kami langsung menuju loket bis antar kota untuk membeli tiket bis tujuan Semarang. Untung sore itu tidak terlalu ramai penumpang sehingga kami langsung dapat tiket untuk pemberangkatan selanjutnya. Perjalanan Jogja – Semarang ditempuh dalam waktu 3,5 jam. Dari pemberhentian bis di suatu tempat yang saya lupa namanya menuju hostel yang sudah kami pesan, kami harus naik angkot menuju bengkong lalu lanjut naik angkot menuju simpang pemuda. Saat itu kebetulan adalah malam minggu sehingga saat kami memasuki kawasan pusat kota, simpang lima, suasana sangat ramai oleh warga Semarang yang sedang berkumpul. Karena sudah malam dan kami butuh istirahat, akhirnya kami tidak mampir di keramaian dan langsung saja berjalan menuju hostel dan mempersiapkan perjalanan esok hari berkeliling Kota Semarang.

Bule aja ke Taman Sari, kamu juga harus ke sini ya :)

Bule aja ke Taman Sari, kamu juga harus ke sini ya :)